Ethereum Melonjak Lewati $ 1.100 untuk Pertama Kalinya dalam 3 Tahun, Apa Selanjutnya?

Harga Ether (ETH), cryptocurrency asli dari blockchain Ethereum, telah melewati level $ 1.100 (Rp 16 juta di Indodax) untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Segera setelah mencapai level tertinggi baru dalam tiga tahun, ETH terkoreksi hingga di bawah $ 900 ( Rp 12.8 juta di Indodax).

Ether membentuk rally karena momentum Bitcoin. Secara historis, setelah rally BTC yang kuat, Altcoin utama ini telah melihat trend naik yang cepat. Trader biasanya menyebutnya “Altseason” karena banyak Altcoin cenderung meningkat bersamaan.

Ether naik setelah rally Bitcoin, tetapi data on-chain juga menunjukkan bahwa ada krisis likuiditas sisi jual.

Sepanjang 2020, cadangan ETH di bursa turun ke posisi terendah dalam sejarah. Ini berarti jumlah ETH yang dapat dijual di bursa lebih rendah. Ki Young Ju, CEO CryptoQuant, menjelaskan :

“Tampaknya krisis likuiditas sisi jual mulai mencapai $ ETH seperti pasar $ BTC. Untuk $ BTC, cadangan semua bursa turun 31% dibandingkan Februari 2020. Untuk $ ETH, cadangan semua bursa turun 20% dibandingkan Mei 2020.”

Namun, meskipun rally kuat ke level yang tidak terlihat sejak Januari 2018, Ether dengan cepat mengalami perlawanan. Ada dua alasan utama di balik koreksinya: pendanaan tinggi dan pesanan jual masif pada level Resistance utama.

Menurut data dari Glassnode, tingkat pendanaan berjangka Ethereum rata-rata 0,2% di seluruh bursa utama.

Biasanya, tingkat pendanaan tetap di sekitar 0,01% saat pasar berjangka tidak terlalu panas. Analis di Glassnode mengatakan:

“Tingkat pendanaan Ethereum berada pada rekor tertinggi, menembus rata-rata 0,2% di seluruh bursa utama. #BitMEX memimpin paket dengan tingkat pendanaan di atas 0,4%.”

Ketika pasar sangat dipengaruhi oleh pembeli atau pemegang kontrak Long, kemungkinan kenaikan harga akan dalam jangka panjang.

Istilah long squeeze mengacu pada skenario di mana pemegang kontrak Long dipaksa untuk melikuidasi posisi mereka ketika harga Bitcoin turun. Hal ini menyebabkan tekanan jual pada BTC meningkat dalam waktu singkat.

Seorang trader dengan nama samaran yang dikenal sebagai “Mayne” mengatakan Ethereum terejeksi dari level Supply mingguan, dimana harga ETH berada saat candle mingguan dibuka pada hari Senin. Ia mengatakan:

“Terejeksi dari supply EQ mingguan untuk saat ini. Prediksi pendanaan menjadi ham, sepertinya kera menekan tombol hijau panjang leverage. Aku kehabisan semangat untuk saat ini.”

Data pasar dan on-chain umumnya menunjukkan bahwa pembeli yang terlambat dihimpit oleh penjual yang agresif. Segera setelah ETH melampaui $ 1.100, pasar spot melihat peningkatan pesanan jual.

Bagaimana kelanjutannya kami rasa akan bergantung pada respon pasar terhadap koreksi, dimana ini akan memberikan gambaran masih seberapa optimisnya pasar untuk mengangkat ETH, atau justru masih akan terseret lebih rendah. Kita lihat saja!

sumber


Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Twitter
Septiady

Sudah Bermain Cryptocurrency Sejak 2015 dan Percaya Bahwa Cryptocurrency Akan Mempermudah Hidup Manusia

Leave a Comment